Agus Juaedi, Kepala Dinas Kehutanan Lumajang (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Agus Juaedi, Kepala Dinas Kehutanan Lumajang (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Kepala Dinas Kehutanan Lumajang Agus Junaedi khawatir jika produksi kayu balsa melimpah harganya akan anjlok. Hal ini disampaikan Edi Junaidi, karena belakangan semakin marak warga Lumajang yang mulai mencari bibit balsa untuk dibudidayakan.

Menurut Agus Junaedi, sampai saat ini di Lumajang masih belum ada pabrik kayu yang secara khusus mengerjakan kayu Balsa.

Namun Junaedi mengakui, belakangan ini permintaan cukup banyak, sedangkan ketersediaannya cukup langka.

"Ini yang membuat mahal, karena barangnya tidak ada, sedangkan permintaan cukup banyak. Kalau semuanya ramai-ramai menamam Balsa, kemudian produksinya melimpah, kami khawatir harganya anjlok dan petani rugi," kata Junaedi kepada media ini.

Oleh karena itu, pihak Dinas Kehutanan tidak bisa berharap agar warga menanam Balsa, atau melarang karena untuk melakukan penanaman. Semuanya diserahkan kepada petani agar jeli melihat kondisi pasar.

"Kami tidak bisa melarang, juga tidak bisa menyuruh. Semoga saja harganya terus bagus, sehingga petani tetap diuntungkan. Kalau sekarang memang permintaannya cukup besar dan harganya mahal, karena barangnya cukup langka di Lumajang," kata Agus Junaedi kemudian.

Junaedi juga mengatakan, pada setiap komiditi selalu berlaku hukum pasar. Jika produksi sedikit permintaan banyak, harganya pasti melambung. Namun sebaliknya, harga akan murah jika produksi melimpah, permintaan tidak meningkat.

"Ini yang kami agak khawatir, karena sampai sekarang pabrik kayu balsa belum ada di Lumajang, beda dengan sengon, yang pabrik pengolahannya cukup banyak di Lumajang," tegas Junaedi kemudian.