Samanhudi Anwar saat menjabat sebagai wali kota Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Samanhudi Anwar saat menjabat sebagai wali kota Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Mantan Wali Kota Blitar M. Samanhudi Anwar "pulang kampung" ke Kota Blitar. Mulai Jumat (14/2/2020) Samanhudi resmi menjadi warga binaan Lapas Kelas II B Blitar. 

Sebelumnya, dia menjalani pembinaan di Lapas Kelas II A Sidoarjo. Samanhudi akan menjalani sisa  masa pembinaan di Lapas Kelas II B Blitar selama 3 tahun 6 bulan 26 hari.

Bambang Setyawan, kepala keamanan Lapas Kelas II B Blitar, mengatakan Samanhudi tiba di Lapas Kelas II B Blitar sekitar pukul 08.30 WIB. Pemindahan ini atas permohonan keluarga dan telah disetujui Kanwil Kemenkum HAM Jawa Timur.

Selain Samanhudi Anwar, Lapas Kelas II B Blitar juga menerima pemindahan Bambang Purnomo. Bambang Purnomo adalah kurir kasus suap yang melibatkan Samanhudi Anwar.

"Pemindahan atas permohonan keluarga. Persetujuan pemindahan sudah disetujui Kanwil Kemenkum HAM Jatim per 11 Februari lalu. Namun yang bersangkutan baru dikirim ke Blitar hari ini," ungkap Bambang Setyawan.

Bambang Setyawan menambahkan, keduanya tetap akan melalui tahapan seperti warga binaan lain. Setelah pemberkasan selesai, keduanya akan menjalani masa pengenalan lingkungan (mapanaling) selama tiga hari. Setelah melewati mapanaling, mereka akan ditempatkan satu kamar dengan warga binaan kasus tipikor (tindak pidana korupsi)  dan warga binaan lansia.

"Keduanya melalui tahapan yang sama seperti warga binaan lainnya. Setelah mapanaling, baru akan didistribusikan ke kamar jadi satu dengan warga binaan kasus tipikor lain dan warga binaan lansia. Perlakuannya sama dengan warga binaan lainnya," jelas Bambang.

Seperti diketahui, mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar terjaring OTT (operasi tangkap tangan) KPK pada Juni 2018 lalu terkait kasus dugaan suap  proyek pembangunan gedung baru SMPN 3 Kota Blitar senilai Rp 23 miliar.

Oleh Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Surabaya, Samanhudi divonis hukuman pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta karena terbukti menerima suap Rp 1,5 miliar. Sementara Bambang Purnomo sebagai perantara antara Samanhudi dengan kontraktor Susilo Prabowo alias Embun divonis 4 tahun.