Salah satu korban yang tergelatak di pinggir area Balaikota Malang saat terjadi gempa (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Salah satu korban yang tergelatak di pinggir area Balaikota Malang saat terjadi gempa (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Seiring terdengar teriakan histeris, tampak puluhan warga berhamburan di area Balai Kota Malang. Gempa berkekuatan 4,5 skala richter (SR) pagi ini mengguncang gedung pemerintahan Kota Malang, Rabu (27/11).

Masyarakat panik dan memenuhi halaman balai kota serta meminta pertolongan. Tak berselang lama, asap mengepul di sepanjang kawasan jalan itu, hingga menyebabkan salah satu bangunan roboh.

Goncangan kuat dari gempa itu sedikitnya juga menjadikan beberapa masyarakat mengalami luka-luka yang cukup serius. Ada yang harus ditandu ke ambulance karena sudah tidak kuat untuk berdiri. Tampak pula korban dengan pergelangan tangan dan kaki terlihat penuh dengan darah akibat kejadian tersebut.

Tak lama, tim gabungan rescue mulai dari BPBD, PMI, Tagana, PMK dan yang lainnya sigap dan melakukan evakuasi cepat. Akibat kejadian ini, ada 5 korban mengalami luka dan harus menjalani perawatan.

Adanya kejadian tersebut juga turut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto juga memantau area tenda pengungsian korban bencana untuk memastikan para korban dalam keadaan baik.

Namun, kejadian bencana tersebut ternyata hanyalah simulasi dalam agenda Apel Siaga Bencana antisipasi musim hujan dan perubahan iklim di Kota Malang tahun 2019. Tim BPBD beserta tim gabungan, membuat acara ini sebagai salah satu bentuk untuk mengajak masyarakat akan kesadaran bencana yang dimulai dari diri sendiri.

"Memasuki musim hujan ini, masyarakat harus tau resiko bencananya. Misalkan pada saat dijalan ada pohon besar harus kita hindari, banjir kita hindari, kalau kita tau bencananya maka kita tahu strategi kita untuk menghindar," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Ali Mulyanto.

Karenanya, dalam kesempatan ini juga turut disosialisasikan melalui apel siaga terkait kewajiban petugas yang harus siap tanggap bencana secara cepat dalam menangani kebencanaan. Sehingga ketika bencana terjadi, semua sudah tahu harus bertugas sebagaimana mestinya.

"Semua relawan, pemangku dan stakeholder lainnya menjadi satu kesatuan. Siapa mengerjakan apa saat terjadi bencana. Ini kita rencanakan dari sekarang namanya Rekonti (Rencana Kontijensi)," imbuhnya.

Sementara itu, Sekda Kota Malang Wasto menyatakan kegiatan ini juga sebagai salah satu bentuk mengedukasi masyarakat untuk tanggap bencana. Apalagi yang namanya bencana datang secara tiba-tiba, maka semua penanganan kebencanaan juga harus secara cepat, tepat dan tanggap spontanitas.

"Ini salah satu dalam mengharmoniskan dan saling mensinergikan antar satuan fungsi manakala terjadi kebencanaan, masyarakat tahu harus bagaimana, relawannya harus bagaimana. Karena penanganan kebencanaan tidak boleh harus dirapatkan dulu, tidak boleh dimusyawarahkan dulu, tapi harus spontanitas bergerak dan bertindak dalam penanganan," ungkap nya.